Ia lumpuh total. Tetapi setiap Kamis hingga Jumat, selama lebih dari tiga setengah tahun, ia bangkit dari tempat tidurnya, berdiri, menghayati kembali Sengsara Kristus dalam sebuah ekstase yang mendalam, lalu kembali lumpuh ketika semuanya berakhir pada Jumat sore sekitar pukul tiga.
Kemudian, Selama tiga belas tahun, ia tidak mengonsumsi makanan maupun minuman. Komuni Kudus menjadi satu-satunya yang diterimanya setiap hari.
Alexandrina Maria da Costa lahir pada 30 Maret 1904 di desa kecil Balasar, wilayah Póvoa de Varzim, Portugal. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi sehingga ia dibesarkan oleh ibunya, Maria Ana da Costa, bersama kakaknya, Deolinda.
Sejak kecil, keluarganya hidup dalam keadaan sederhana dan bergantung pada hasil kerja di ladang. Karena pada waktu itu Balasar belum memiliki sekolah dasar, ketika berusia sekitar tujuh tahun Alexandrina dikirim ke Póvoa de Varzim untuk tinggal bersama keluarga seorang tukang kayu agar dapat bersekolah.
Di sanalah ia menerima Komuni Pertama pada tahun 1911 dan Sakramen Krisma pada tahun berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar yang singkat, ia kembali ke Balasar dan membantu ibunya bekerja di ladang. Kesaksian orang-orang yang mengenalnya menggambarkan Alexandrina muda sebagai gadis yang ceria, penuh semangat, mudah bergaul, dan pekerja keras.
Tubuhnya kuat sehingga ia mampu mengerjakan pekerjaan berat di sawah bersama para pria, sesuatu yang tidak lazim bagi seorang remaja putri pada masa itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia kelak akan dikenal sebagai seorang mistikus; ia bertumbuh sebagai anak desa yang sederhana, mengasihi keluarganya, dan menjalani kehidupan yang biasa.
Namun di balik kesederhanaan itu telah tumbuh benih-benih kehidupan rohani. Sejak kecil ia dididik dalam iman Katolik oleh ibunya. Ia memiliki kecintaan yang mendalam kepada Ekaristi, rajin mengikuti Misa ketika memungkinkan, serta menunjukkan devosi kepada Bunda Maria yang kelak menjadi salah satu ciri khas spiritualitasnya.
Pada usia sekitar dua belas tahun, Alexandrina terserang infeksi berat—kemungkinan demam tifoid—yang hampir merenggut nyawanya. Ia berhasil pulih, tetapi kesehatannya tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Dalam biografi resmi Vatikan, pengalaman sakit ini dipandang sebagai awal dari jalan penderitaan yang kelak membentuk seluruh panggilannya.
Peristiwa yang mengubah seluruh hidup Alexandrina terjadi pada Sabtu Suci tahun 1918, ketika usianya baru empat belas tahun. Hari itu Alexandrina, kakaknya Deolinda, dan seorang gadis magang sedang menjahit di rumah mereka.
Tiba-tiba tiga pria memaksa masuk dengan maksud memperkosa mereka. Pintu-pintu rumah telah dikunci, tetapi para pria itu berhasil mendobraknya dan terus mendekat. Dalam situasi yang sangat genting, Alexandrina mengambil keputusan yang akan menentukan seluruh hidupnya. Demi mempertahankan kemurniannya, ia melompat dari jendela rumah setinggi sekitar empat meter ke halaman di bawah.
Ia berhasil lolos dari para penyerangnya, tetapi tubuhnya mengalami cedera yang berat. Pada awalnya ia masih dapat berjalan, meskipun dengan rasa sakit yang semakin hebat.
Berbagai dokter telah memeriksanya, namun kondisi tulang belakangnya terus memburuk. Sedikit demi sedikit, kemampuan bergeraknya hilang.
Para dokter akhirnya menyimpulkan bahwa kerusakan yang dialaminya bersifat permanen dan kelumpuhannya akan terus berkembang.
Bagi Alexandrina, peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan tragis. Dalam perjalanan rohaninya kemudian, ia memandang lompatan itu sebagai harga yang harus dibayar demi mempertahankan kemurnian yang dipersembahkannya kepada Kristus.
Gereja sendiri mengenang peristiwa tersebut sebagai tindakan keberanian yang lahir dari iman, bukan sebagai tindakan nekat tanpa makna.
Meskipun cedera yang dialaminya sangat serius, Alexandrina tidak langsung kehilangan kemampuan untuk berjalan.
Selama beberapa tahun ia masih berusaha menyeret tubuhnya menuju gereja paroki agar dapat menghadiri Misa dan berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus.
Pemandangan seorang gadis muda yang datang dengan tubuh membungkuk dan penuh rasa sakit meninggalkan kesan mendalam bagi umat di Balasar. Namun kondisi kesehatannya terus merosot.
Rasa sakit semakin hebat dan kelumpuhan menjalar ke seluruh tubuh.
Akhirnya, pada 14 April 1925, Alexandrina harus berbaring di tempat tidur. Ia tidak pernah dapat bangun lagi selama sekitar tiga puluh tahun hingga wafatnya pada tahun 1955.
Pada masa-masa awal kelumpuhan itu, ia masih memohon dengan sungguh-sungguh agar Tuhan menyembuhkannya.
Ia bahkan bernazar bahwa jika dipulihkan, ia akan menjadi seorang misionaris.
Kerinduan itu sangat manusiawi: seorang perempuan muda yang ingin kembali berjalan, bekerja, dan melayani sesama. Akan tetapi, doa-doanya tidak dijawab dengan cara yang ia harapkan.
Perlahan-lahan Alexandrina mulai memahami bahwa panggilannya bukanlah menjadi misionaris yang mengembara ke berbagai tempat, melainkan menjadi "misionaris dari tempat tidurnya", mempersembahkan penderitaan demi keselamatan jiwa-jiwa. Kesadaran inilah yang menjadi titik balik dalam seluruh kehidupan rohaninya.

Perubahan terbesar dalam hidup Alexandrina bukanlah ketika ia kehilangan kemampuan berjalan, melainkan ketika ia berhenti memandang penderitaan sebagai hukuman dan mulai menerimanya sebagai panggilan.
Dalam biografi resminya, Vatikan menjelaskan bahwa ia secara bertahap sampai pada keyakinan bahwa Allah memanggilnya untuk menjadi "jiwa korban" (victim soul), yakni seseorang yang secara bebas mempersembahkan penderitaannya dalam persatuan dengan kurban Kristus demi pertobatan para pendosa dan keselamatan jiwa-jiwa.
Perjalanan menuju penyerahan itu tidak terjadi dalam sekejap. Alexandrina terlebih dahulu mengalami pergulatan batin, kekecewaan, dan kerinduan untuk sembuh. Namun semakin ia berdoa, semakin ia belajar menerima kehendak Allah.
Dalam salah satu ungkapan yang dikutip Vatikan, ia merangkum perjalanan rohaninya:
"Bunda Maria menganugerahkan kepadaku rahmat yang lebih besar: pertama, penyerahan diri; kemudian, keselarasan penuh dengan kehendak Allah; akhirnya, kerinduan untuk menderita."
Sejak saat itu, penderitaan tidak lagi menjadi pusat hidupnya. Yang menjadi pusat adalah Kristus.
Tempat tidurnya berubah menjadi altar persembahan, dan dari sanalah dimulai babak baru yang kelak ditandai oleh pengalaman-pengalaman mistik, devosi yang mendalam kepada Ekaristi, serta misi doa dan silih bagi dunia.
Inilah jembatan yang menghubungkan kisah hidupnya dengan bagian-bagian berikutnya mengenai pengalaman mistik dan sengsara yang dialaminya setiap Kamis–Jumat.
Sekitar tahun 1933, setelah hampir delapan tahun menjalani hidup sebagai penderita lumpuh total, Alexandrina Maria da Costa mulai mengalami berbagai pengalaman mistik yang ia sampaikan secara tertulis kepada pembimbing rohaninya.
Dalam catatan-catatan tersebut, ia mengisahkan percakapan batin dengan Yesus Kristus dan Santa Perawan Maria, yang mendorongnya untuk mempersembahkan seluruh penderitaannya sebagai silih bagi pertobatan para pendosa, pengudusan para imam, dan keselamatan jiwa-jiwa.
Semua pengalaman itu berada di bawah bimbingan dan penilaian Gereja melalui para pembimbing rohaninya. Babak baru yang paling luar biasa dimulai pada Senin, 3 Oktober 1938.
Sejak hari itu, Alexandrina mengalami apa yang kemudian dikenal sebagai Ekstase Sengsara (Passion Ecstasy), suatu pengalaman mistik yang berulang hampir setiap minggu selama sekitar tiga setengah tahun, hingga Jumat, 27 Maret 1942.
Setiap pekan, pengalaman tersebut berlangsung dalam rentang waktu yang tetap, dimulai pada hari Kamis sekitar pukul 12.00 siang dan berakhir pada hari Jumat sekitar pukul 15.00 sore, mengikuti kronologi Sengsara Yesus, sejak doa di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di kayu salib.
Dalam keadaan ekstase itu, Alexandrina menghayati kembali peristiwa-peristiwa Sengsara Kristus secara berurutan.
Para saksi melaporkan bahwa ia tampak berdoa dengan penuh pergulatan seperti Yesus di Getsemani, kemudian memperlihatkan gerakan-gerakan yang menggambarkan penangkapan, pengadilan, pencambukan, pemahkotaan duri, perjalanan menuju Golgota, penyaliban, hingga saat wafat Kristus sekitar pukul tiga sore.

Fenomena tersebut menjadi perhatian luas karena Alexandrina sebenarnya telah lumpuh total sejak 14 April 1925. Namun selama ekstase berlangsung, banyak saksi menyatakan bahwa ia dapat bangkit dari tempat tidurnya, bergerak di dalam kamar mengikuti rangkaian Jalan Salib, berlutut, jatuh berulang kali seolah memikul salib, mengangkat kedua tangannya menyerupai posisi orang yang disalibkan, lalu kembali terbaring dalam keadaan sangat lemah setelah ekstase berakhir.
Di luar waktu-waktu tersebut, ia kembali berada dalam kondisi lumpuh seperti sebelumnya.
Ekstase Sengsara ini tidak berlangsung secara tersembunyi. Selain anggota keluarganya, pengalaman tersebut disaksikan oleh para imam, biarawan, dokter, serta banyak peziarah yang datang ke Balasar.
Kesaksian mereka kemudian dihimpun dan menjadi bagian dari dokumentasi yang dipelajari dalam penyelidikan Gereja mengenai kehidupan Alexandrina. Menurut catatan para pembimbing rohaninya, Alexandrina tidak pernah mencari perhatian melalui pengalaman-pengalaman tersebut.
Sebaliknya, ia selalu menyerahkan penilaian atas semua yang dialaminya kepada Gereja dan tetap hidup dalam ketaatan serta kerendahan hati.
Baginya, pengalaman mistik itu bukanlah tujuan, melainkan bagian dari panggilannya untuk bersatu dengan Sengsara Kristus dan mempersembahkan penderitaan demi keselamatan jiwa-jiwa. Pada Jumat, 27 Maret 1942, ekstase Sengsara yang telah berlangsung hampir setiap minggu itu berakhir.
Sejak hari yang sama, dimulailah babak lain yang lebih mengundang perhatian dunia. Alexandrina dikatakan tidak lagi mengonsumsi makanan maupun minuman, selain menerima Komuni Kudus setiap hari. Fenomena inilah yang kemudian mendorong Gereja dan dunia medis melakukan penyelidikan yang ketat terhadap dirinya.
Ekstase Sengsara yang dialami Alexandrina selama hampir empat tahun tidak hanya disaksikan oleh keluarga dan para peziarah, tetapi juga diamati oleh para imam, pembimbing rohani, serta sejumlah dokter.
Pengamatan tersebut dilakukan dengan sikap kritis dan hati-hati, untuk memastikan bahwa fenomena yang terjadi bukanlah hasil rekayasa ataupun sugesti semata.
Berikut beberapa kesaksian yang sering dikutip dalam dokumentasi mengenai kehidupan Beata Alexandrina.
Dr. João Elísio de Azevedo: Mencatat Setiap Tahap Ekstase Dr. João Elísio de Azevedo merupakan salah seorang dokter yang mengikuti kondisi kesehatan Alexandrina selama bertahun-tahun.
Dalam laporan mengenai salah satu observasi ekstase disebutkan:
"Dr. Azevedo was most attentive. He took notes of everything that happened during the ecstasies."
Terjemahan:
"Dr. Azevedo mengamati dengan sangat saksama. Ia mencatat segala sesuatu yang terjadi selama ekstase berlangsung."
Kehadiran seorang dokter yang mencatat setiap tahap ekstase menunjukkan bahwa fenomena tersebut diamati secara sistematis, bukan sekadar diterima sebagai pengalaman devosional.
Tidak Ada Respons terhadap Rangsangan Fisik Selama Alexandrina berada dalam keadaan ekstase, para dokter berusaha mengamati apakah ia masih memberikan respons terhadap rangsangan dari luar. Salah satu laporan observasi menyatakan:
"There was never once the slightest reaction."
Terjemahan: "Tidak pernah sekalipun ia menunjukkan reaksi sekecil apa pun."
Catatan ini menjadi salah satu alasan mengapa fenomena tersebut terus menarik perhatian para dokter dan pembimbing rohani yang menyaksikannya. Kesimpulan Para Imam dan Dokter Setelah berbagai observasi yang dilakukan selama bertahun-tahun, laporan tersebut merangkum hasil pengamatan dengan kalimat:
"The unanimous verdict of the priests and doctors was that the phenomenon was inexplicable."
Terjemahan: "Kesimpulan bulat para imam dan dokter adalah bahwa fenomena tersebut tidak dapat dijelaskan."
Pernyataan ini tidak dimaksudkan sebagai deklarasi mukjizat, melainkan sebagai pengakuan bahwa mereka tidak menemukan penjelasan medis yang memadai berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukan.
Kesaksian Alexandrina Bagi Alexandrina sendiri, pengalaman Sengsara yang dialaminya bukanlah sesuatu yang dicari, melainkan panggilan untuk mengambil bagian dalam penderitaan Kristus demi keselamatan jiwa-jiwa.
Dalam salah satu catatan rohaninya ia menulis:
"Tudo por amor de Jesus, pela conversão dos pecadores e em reparação dos pecados cometidos contra o Imaculado Coração de Maria."
Terjemahan: "Segala sesuatu demi kasih kepada Yesus, demi pertobatan para pendosa, dan sebagai silih atas dosa-dosa yang dilakukan terhadap Hati Tak Bernoda Maria."
Di kesempatan lain ia juga menulis:
"Quero sofrer, amar e reparar." Terjemahan: "Aku ingin menderita, mengasihi, dan melakukan silih."
Bagi Alexandrina, penderitaan bukanlah tujuan hidup, melainkan jalan untuk semakin bersatu dengan Kristus yang menderita demi keselamatan manusia.
Kesaksian Pembimbing Rohani Pembimbing rohani Alexandrina, Pastor Mariano Pinho, SJ, berkali-kali mengingatkan agar semua pengalaman mistik yang dialaminya disikapi dengan kehati-hatian.
Dalam salah satu penilaiannya ia menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah fenomena luar biasa, melainkan kesetiaan Alexandrina dalam menjalani kehendak Allah dengan rendah hati dan taat kepada Gereja.
Sikap inilah yang kemudian menjadi dasar penyelidikan Gereja. Pengalaman mistik diperiksa secara cermat, tetapi yang akhirnya dinilai adalah kehidupan kebajikan heroik, ketaatan, kerendahan hati, dan kasih yang diwujudkan Alexandrina sepanjang hidupnya.
Berbagai kesaksian tersebut menunjukkan bahwa Ekstase Sengsara Alexandrina bukan hanya menjadi perhatian umat beriman, tetapi juga diamati secara serius oleh para imam dan tenaga medis.
Walaupun para saksi mengakui bahwa mereka tidak mampu menjelaskan sepenuhnya fenomena yang mereka lihat, Gereja tetap bersikap hati-hati. Pengalaman mistik tidak pernah dijadikan dasar utama untuk menyatakan seseorang kudus, melainkan dipandang sebagai bagian dari perjalanan rohani yang harus diuji bersama dengan seluruh kehidupan iman orang yang mengalaminya.
Pada Jumat, 27 Maret 1942, bertepatan dengan berakhirnya pengalaman Ekstase Sengsara yang telah berlangsung hampir setiap minggu selama lebih dari tiga setengah tahun, kehidupan Beata Alexandrina Maria da Costa memasuki babak yang sama sekali baru.
Sejak hari itu, menurut kesaksian keluarga, pembimbing rohani, dan orang-orang yang merawatnya, ia tidak lagi mengonsumsi makanan maupun minuman sebagaimana lazimnya manusia.
Satu-satunya yang diterimanya setiap hari hanyalah Komuni Kudus.
Fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai Jejum Eucarístico (Puasa Ekaristi), atau dalam istilah medis sering disebut inedia, yakni keadaan seseorang tetap bertahan hidup tanpa asupan makanan dan minuman dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Dalam kasus Alexandrina, fenomena ini dikatakan berlangsung sejak 27 Maret 1942 hingga wafatnya pada 13 Oktober 1955, lebih dari tiga belas tahun.
Situs resmi Santuário Alexandrina de Balasar juga menggunakan istilah "Jejum e Anúria" (Puasa dan Anuria) untuk menggambarkan keadaan tersebut. Selain tidak makan dan tidak minum, Alexandrina juga dilaporkan tidak mengeluarkan urin maupun tinja selama periode itu.
Klaim inilah yang kemudian menarik perhatian luas, bukan hanya di kalangan umat Katolik, tetapi juga para dokter yang berusaha mencari penjelasan ilmiah atas fenomena tersebut.
Dalam salah satu catatan rohaninya yang kemudian dimuat dalam Sentimentos da Alma, Alexandrina menuliskan kata-kata yang ia yakini diterimanya dari Yesus pada 7 Desember 1946:
"Não tornarás a comer na terra. O teu alimento é a Minha Carne; o teu sangue é o Meu Sangue divino; a tua vida é a Minha Vida..."
Terjemahan: "Engkau tidak akan makan lagi di dunia. Makananmu adalah Daging-Ku; darahmu adalah Darah Ilahi-Ku; hidupmu adalah Hidup-Ku...."
Bagi Alexandrina, keadaan tersebut bukanlah suatu kemampuan yang berasal dari dirinya sendiri, melainkan rahmat yang sepenuhnya bergantung pada Kristus dalam Sakramen Ekaristi.
Namun, semakin luas berita mengenai fenomena ini, semakin besar pula keraguan yang muncul.
Sebagian orang menganggap Alexandrina hanya berpura-pura, sementara yang lain menduga bahwa keluarga atau orang-orang di sekitarnya diam-diam memberinya makanan.
Untuk menjawab berbagai keraguan tersebut, otoritas Gereja memandang perlu dilakukan penyelidikan yang melibatkan tenaga medis secara langsung.
Atas persetujuan pembimbing rohani dan otoritas Gereja, Alexandrina kemudian dibawa ke Hospital Refúgio da Paralisia Infantil, di kawasan Foz do Douro, dekat kota Porto.
Di rumah sakit inilah salah satu penyelidikan medis paling terkenal dalam hidupnya akan berlangsung selama 40 hari 40 malam, di bawah pengawasan ketat para dokter dan perawat.
Semakin luasnya berita mengenai puasa total Alexandrina mendorong otoritas Gereja untuk melakukan penyelidikan yang lebih objektif.
Tujuannya bukan untuk membuktikan adanya mukjizat, melainkan memastikan apakah fenomena tersebut dapat dijelaskan secara medis atau merupakan suatu bentuk penipuan.
Atas persetujuan pembimbing rohani dan Uskup setempat, Alexandrina dipindahkan dari rumahnya di Balasar ke Hospital Refúgio da Paralisia Infantil, sebuah rumah sakit khusus penderita kelumpuhan anak yang terletak di Foz do Douro, dekat kota Porto, Portugal.
Alexandrina dirawat di rumah sakit tersebut mulai 10 Juni 1943 hingga 20 Juli 1943, selama 40 hari 40 malam.
Pada mulanya masa observasi direncanakan berlangsung selama tiga puluh hari. Namun karena masih ada keraguan dari sebagian kalangan medis, pengawasan diperpanjang sepuluh hari lagi sehingga genap empat puluh hari.
Dalam autobiografinya, Alexandrina menanggapi perpanjangan masa observasi itu dengan tenang:
"Quem está trinta, está quarenta."
Terjemahan: "Kalau sudah tiga puluh hari, sekalian saja empat puluh hari."
Selama berada di rumah sakit, Alexandrina ditempatkan di bawah pengawasan terus-menerus selama dua puluh empat jam. Para dokter dan perawat bergantian mengawasinya siang dan malam untuk memastikan bahwa ia tidak menerima makanan ataupun minuman secara tersembunyi.
Semua kunjungan dibatasi dan setiap kemungkinan terjadinya kontak yang dapat memengaruhi hasil observasi diawasi dengan ketat. Penyelidikan medis dipimpin oleh Dr. Henrique Gomes de Araújo, Direktur Hospital Refúgio da Paralisia Infantil sekaligus seorang ahli saraf (neurolog) yang dikenal di Portugal.
Ia memimpin seluruh proses observasi klinis serta menyusun laporan medis mengenai hasil pengamatan yang dilakukan selama empat puluh hari tersebut.
Selain Dr. Henrique Gomes de Araújo, penyelidikan juga melibatkan Dr. João Elísio de Azevedo, dokter yang telah lama mengikuti kondisi kesehatan Alexandrina, serta beberapa dokter dan perawat rumah sakit yang bertugas melakukan pengamatan bergiliran.
Dalam sejumlah biografi juga disebut nama Dr. Álvaro de Matos, yang dikisahkan termasuk di antara dokter yang tetap bersikap skeptis dan menghendaki agar masa observasi diperpanjang.
Namun rincian mengenai perannya tidak muncul secara eksplisit dalam seluruh dokumen resmi, sehingga para sejarawan memperlakukannya dengan kehati-hatian.
Selama masa observasi, para dokter mencatat bahwa Alexandrina tidak menerima makanan maupun minuman, serta tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa kebutuhan fisiologis tersebut dipenuhi secara tersembunyi.
Situs resmi Santuário Alexandrina de Balasar menyebut keadaan ini sebagai "Jejum e Anúria", yakni puasa total yang disertai tidak adanya pengeluaran urin.
Dalam laporan akhirnya, Dr. Henrique Gomes de Araújo menulis:
"É para nós inteiramente certo que, durante os quarenta dias de internamento, a doente não comeu nem bebeu; não urinou nem defecou..."
Terjemahan: "Bagi kami sungguh pasti bahwa selama empat puluh hari perawatan di rumah sakit, pasien tidak makan dan tidak minum; tidak berkemih maupun buang air besar...."
Namun dokter tersebut tidak menyatakan bahwa fenomena itu merupakan mukjizat.
Sebaliknya, ia menutup laporannya dengan sikap ilmiah yang hati-hati:
"...esperamos uma explicação para estes factos..."
Terjemahan: "...kami menantikan suatu penjelasan atas fakta-fakta ini...."
Dengan kata lain, tim medis mengakui bahwa berdasarkan pengamatan langsung mereka tidak menemukan penjelasan fisiologis yang memadai terhadap keadaan Alexandrina, tetapi mereka juga tidak melampaui batas kewenangan ilmu kedokteran dengan menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut adalah mukjizat.
Bagi Gereja, hasil observasi medis tersebut bukanlah dasar utama untuk menyatakan Alexandrina sebagai seorang yang kudus.
Penyelidikan itu hanya menjadi salah satu unsur yang membantu menilai kejujuran kesaksiannya.
Dalam proses beatifikasi, Gereja tetap menempatkan kehidupan iman, ketaatan kepada Gereja, kerendahan hati, serta kebajikan heroik sebagai dasar utama pengakuan terhadap kekudusannya.
Di balik penderitaan yang dijalaninya selama puluhan tahun, Beata Alexandrina Maria da Costa meyakini bahwa hidupnya memiliki sebuah misi rohani.
Melalui para pembimbing rohaninya, ia berulang kali menyatakan bahwa seluruh penderitaan yang dipersembahkannya bertujuan untuk pertobatan para pendosa, pengudusan para imam, serta perdamaian dunia.
Ia juga dikenal memiliki devosi yang mendalam kepada Sakramen Mahakudus dan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria.
Dalam salah satu catatan rohaninya, Alexandrina menulis:
"Quero sofrer, amar e reparar."
Terjemahan: "Aku ingin menderita, mengasihi, dan melakukan silih."
Melalui pembimbing rohaninya, Alexandrina juga menyampaikan permohonan yang diyakininya berasal dari Yesus agar Gereja memperbarui devosi kepada Ekaristi dan mempersembahkan dunia kepada Hati Tak Bernoda Maria.
Beberapa penulis Katolik kemudian mengaitkan pesan-pesan tersebut dengan tindakan Paus Pius XII, yang pada 31 Oktober 1942 mempersembahkan dunia kepada Hati Tak Bernoda Maria dan kemudian memperbaruinya bagi bangsa-bangsa Rusia pada tahun 1952.
Meskipun demikian, Gereja tidak menyatakan bahwa tindakan Paus tersebut merupakan akibat langsung dari pengalaman mistik Alexandrina. Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, Alexandrina tetap terbaring di tempat tidur di rumah keluarganya di Balasar.
Meskipun kondisi fisiknya semakin lemah, ia terus menerima banyak surat dari berbagai negara, menyambut para peziarah, serta memberikan dukungan rohani melalui doa dan korespondensi.
Rumah sederhana tempat ia tinggal perlahan berubah menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang yang ingin mengenal lebih dekat perempuan yang hidupnya dipersembahkan bagi Kristus.
Pada 13 Oktober 1955, bertepatan dengan peringatan mukjizat matahari di Fatima tahun 1917, Alexandrina Maria da Costa wafat dalam usia 51 tahun.
Sebelum meninggal, ia dikisahkan mengucapkan keinginannya agar semua orang mencintai Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Beberapa tahun setelah wafatnya, proses penyelidikan Gereja mengenai kehidupan dan kebajikan heroiknya dimulai di Keuskupan Braga.
Ribuan halaman kesaksian para saksi, pembimbing rohani, dokter, dan berbagai dokumen dikumpulkan untuk diperiksa oleh Takhta Suci.
Dalam proses ini, Gereja tidak menjadikan fenomena mistik ataupun puasa Ekaristi sebagai dasar utama penilaiannya, melainkan memusatkan perhatian pada kehidupan iman, harapan, kasih, kerendahan hati, ketaatan, serta ketekunan Alexandrina dalam menjalani penderitaan.
Pada 21 Desember 1995, Paus Yohanes Paulus II mengakui kebajikan heroik Alexandrina dan memberinya gelar Venerabilis (Yang Mulia).
Setelah mukjizat yang dikaitkan dengan perantaraannya diakui oleh Gereja, ia kemudian dibeatifikasi pada 25 April 2004 di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Dalam homilinya, Paus Yohanes Paulus II mengenang Alexandrina sebagai seorang perempuan yang menjadikan penderitaan sebagai ungkapan kasih kepada Kristus dan sesama.
Ia berkata: "O segredo da Alexandrina foi o amor."
Terjemahan: "Rahasia hidup Alexandrina adalah kasih."
Kini, makam Beata Alexandrina Maria da Costa berada di Gereja Paroki Balasar, Portugal.
Rumah tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya juga dipelihara sebagai museum dan tempat ziarah. Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berdoa, mengenang teladan hidupnya, dan memohon perantaraannya.
Bagi Gereja Katolik, Beata Alexandrina dikenang bukan terutama karena fenomena-fenomena luar biasa yang menyertai hidupnya, melainkan karena kesetiaannya memikul salib setiap hari.
Di tengah kelumpuhan, penderitaan, dan berbagai pengalaman mistik yang sulit dipahami, ia tetap hidup dalam ketaatan kepada Gereja, kasih kepada Kristus dalam Ekaristi, serta harapan yang tidak pernah padam. Warisan inilah yang terus menginspirasi umat beriman hingga sekarang.
Lebih dari setengah abad setelah wafatnya, Beata Alexandrina Maria da Costa tetap dikenang sebagai salah satu mistikus besar Portugal pada abad ke-20.
Warisan rohaninya tidak hanya terletak pada pengalaman-pengalaman mistik yang luar biasa, tetapi terutama pada kesaksian hidupnya yang menunjukkan bahwa penderitaan dapat dihayati sebagai jalan persatuan dengan Kristus ketika diterima dengan iman, kasih, dan ketaatan kepada Gereja.
Di sepanjang hidupnya, Alexandrina berulang kali menegaskan bahwa pusat kehidupannya bukanlah pengalaman mistik, melainkan Yesus yang hadir dalam Sakramen Ekaristi.
Dalam salah satu catatan rohaninya ia menulis:
"Jesus é o centro da minha vida."
Terjemahan: "Yesus adalah pusat hidupku."
Bahkan ketika berbagai fenomena luar biasa menarik perhatian banyak orang, Alexandrina tetap mengarahkan setiap orang kepada Kristus, bukan kepada dirinya sendiri.
Dalam salah satu ungkapannya yang paling dikenal, ia menulis:
"Não olhem para mim; olhem para Jesus."
Terjemahan: "Jangan memandang aku; pandanglah Yesus."
Kalimat sederhana tersebut mencerminkan kerendahan hati yang menjadi ciri khas seluruh hidupnya. Ia tidak pernah menganggap pengalaman mistik sebagai tanda keistimewaan pribadi, melainkan sebagai rahmat yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab dan ketaatan.
Warisan rohani Alexandrina juga tampak dalam tiga tema yang terus diulang dalam tulisan-tulisannya, yaitu Ekaristi, silih, dan kasih. Baginya, Ekaristi merupakan sumber kekuatan untuk menjalani penderitaan; silih adalah ungkapan kasih kepada Allah demi pertobatan manusia; sedangkan kasih merupakan tujuan akhir seluruh hidup Kristiani.
Dalam salah satu doanya ia menulis: "Tudo por amor de Jesus."
Terjemahan: "Segala sesuatu demi kasih kepada Yesus."
Ungkapan singkat ini kemudian menjadi moto yang sering dikaitkan dengan spiritualitas Alexandrina. Devosi yang Terus Berkembang Setelah beatifikasinya pada tahun 2004, devosi kepada Beata Alexandrina berkembang di berbagai negara, terutama di Portugal, Spanyol, Italia, Brasil, Filipina, dan beberapa negara Amerika Latin.
Banyak umat memohon perantaraannya, khususnya bagi mereka yang menderita sakit berat, kelumpuhan, penderitaan berkepanjangan, serta mereka yang memiliki devosi mendalam kepada Sakramen Mahakudus.
Rumah tempat Alexandrina menghabiskan sebagian besar hidupnya di Balasar kini dipelihara sebagai Casa Museu Beata Alexandrina, sementara makamnya berada di Gereja Paroki Balasar. Kedua tempat tersebut menjadi tujuan peziarahan ribuan umat setiap tahun.
Selain itu, berbagai tulisan rohaninya, termasuk Autobiografia, Sentimentos da Alma, dan kumpulan surat-suratnya, terus dipelajari oleh para imam, biarawan-biarawati, maupun umat awam sebagai sumber refleksi mengenai makna penderitaan dalam terang iman Kristiani.
Pandangan Gereja Gereja Katolik selalu membedakan antara pengalaman mistik pribadi dan ajaran iman. Pengalaman-pengalaman luar biasa yang dialami Alexandrina tidak termasuk dalam Wahyu Ilahi yang mengikat seluruh umat beriman.
Oleh karena itu, umat Katolik tidak diwajibkan untuk mempercayai seluruh pengalaman mistiknya. Sebaliknya, Gereja mengangkat Alexandrina sebagai Beata karena kehidupan kebajikan heroiknya: imannya yang teguh, harapannya yang tidak goyah, kasihnya kepada Allah dan sesama, ketaatannya kepada Gereja, serta kesetiaannya memikul penderitaan hingga akhir hidup.
Dalam homili beatifikasinya, Paus Santo Yohanes Paulus II merangkum teladan hidup Alexandrina dengan kalimat yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling dikenal:
"O segredo da Alexandrina foi o amor."
Terjemahan: "Rahasia hidup Alexandrina adalah kasih."
Kalimat tersebut menjadi penutup yang tepat bagi perjalanan hidup seorang perempuan sederhana dari Balasar yang, melalui penderitaan, Ekaristi, dan kasih kepada Kristus, meninggalkan warisan rohani yang terus menginspirasi Gereja hingga masa kini.
Sejak wafatnya pada 13 Oktober 1955, makam Beata Alexandrina Maria da Costa di Balasar tidak pernah sepi dari para peziarah. Banyak umat datang untuk berdoa, memohon pertolongan, maupun mengucap syukur atas rahmat yang mereka yakini diperoleh melalui doa perantaraannya.
Di Portugal, Alexandrina bahkan telah lama dikenal dengan sebutan "Santinha de Balasar" (Santa Kecil dari Balasar), sebuah ungkapan kasih yang mencerminkan keyakinan umat akan kekudusan hidupnya. Situs resmi Santuário Alexandrina de Balasar mencatat bahwa setelah wafatnya, arus peziarah ke Balasar terus meningkat.
Banyak orang melaporkan rahmat rohani, pertobatan, serta berbagai permohonan yang mereka yakini dikabulkan melalui doa perantaraannya. Kesaksian-kesaksian tersebut kemudian dihimpun sebagai bagian dari dokumentasi devosi umat, meskipun tidak semuanya diperlakukan sebagai mukjizat oleh Gereja.
Mukjizat yang Diakui Gereja Salah satu kesaksian yang memperoleh pengakuan resmi Gereja adalah kesembuhan Maria Madalena Azevedo Gomes Fonseca, seorang perempuan Portugal yang tinggal di Prancis dan menderita penyakit Parkinson.
Pada tahun 1995, Madalena memulai novena memohon perantaraan Alexandrina. Menurut kesaksiannya, pada 3 Maret 1995, setelah menerima Komuni Kudus sekitar pukul 16.00, ia merasakan seseorang menyentuhnya. Sekitar pukul 18.00, ia menyadari bahwa gejala penyakit yang selama ini melumpuhkannya telah hilang.
Dokter yang memeriksanya tidak menemukan penjelasan medis yang memadai atas kesembuhan tersebut. Kasus itu kemudian dipelajari secara bertahap oleh para ahli medis independen, Komisi Teolog, dan akhirnya oleh Dicastery for the Causes of Saints sebelum dinyatakan sebagai mukjizat yang terjadi melalui doa perantaraan Alexandrina.
Pengakuan resmi inilah yang membuka jalan bagi beatifikasinya pada 25 April 2004. Rahmat Rohani Selain kesembuhan fisik, berbagai kesaksian juga berbicara tentang rahmat pertobatan dan pembaruan hidup.
Bahkan ketika masih hidup, Alexandrina dikenal sebagai pribadi yang mendoakan banyak orang. Dalam salah satu surat kepada pembimbing rohaninya, ia menceritakan bagaimana doa-doanya dipersembahkan bagi sebuah keluarga yang telah lama meninggalkan Sakramen Tobat dan Ekaristi, hingga akhirnya mereka kembali kepada kehidupan iman.
Kesaksian-kesaksian semacam ini kemudian banyak dihimpun dalam berbagai Boletins de Graças (Buletin Rahmat) yang diterbitkan oleh tempat ziarah Balasar.
Devosi yang Terus Hidup Hingga kini, umat dari berbagai negara terus berziarah ke Balasar untuk berdoa di makam Beata Alexandrina. Banyak peziarah meninggalkan surat, intensi doa, maupun ungkapan syukur atas rahmat yang mereka yakini diterima melalui perantaraannya.
Bagi Gereja Katolik, kesaksian-kesaksian tersebut merupakan ungkapan iman umat yang patut dihormati, tetapi setiap klaim mukjizat tetap harus melalui penyelidikan yang cermat sebelum memperoleh pengakuan resmi.
Sebagaimana tertulis pada epitaf yang disiapkan sendiri oleh Alexandrina beberapa tahun sebelum wafatnya, perhatian hidupnya tidak pernah tertuju pada dirinya sendiri, melainkan pada pertobatan manusia.
Ia menulis: "Convertei-vos! Não ofendais a Jesus... Amai-O! Amai-O!"
Terjemahan: "Bertobatlah! Jangan lagi menyakiti hati Yesus... Kasihilah Dia! Kasihilah Dia!"
Lebih dari berbagai kisah luar biasa yang dikaitkan dengan namanya, pesan inilah yang terus menjadi warisan rohani Beata Alexandrina Maria da Costa bagi Gereja dan bagi setiap orang yang mengenal kisah hidupnya.
Referensi Sumber:
https://www.sipca.es/censo/7-INM-ZAR-024-094-001-7_1/Capilla/de/los/Corporales.html
https://hozana.org/en/miracles-and-apparitions/mystics/alexandrina-de-balazarhttps://www.piercedhearts.org/theology_heart/life_saints/blalexandrina.htm
https://allsaintstories.com/saints/st-alexandrina-of-balazar

