
Santa Juliana dari Liège (juga dikenal sebagai Santa Juliana dari Cornillon) adalah seorang biarawati, mistikus abad ke-13, dan tokoh utama di balik penetapan Hari Raya Corpus Christi (Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus) di dalam Gereja Katolik.
Informasi Utama:
Tanggal Lahir: Sekitar tahun 1192 atau 1193 di Retinnes, Liège (sekarang Belgia).
Wafat: 5 April 1258 di Fosses-la-Ville, Belgia.
Hari Peringatan: 6 April.
Kanonisasi: Tahun 1869 oleh Paus Pius IX.
Pelindung: Devosi kepada Ekaristi Kudus dan Hari Raya Corpus Christi.
Juliana menjadi yatim piatu pada usia lima tahun. Ia bersama saudarinya, Agnes dibesarkan oleh para biarawati Agustinian di biara dan rumah sakit kusta Mont-Cornillon. Ia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan menguasai karya-karya Bapa Gereja dalam bahasa Latin.
Pada usia 16 tahun, saat melakukan adorasi Ekaristi, Juliana mendapat penglihatan mistik berupa bulan purnama yang cemerlang namun terhalang oleh sebuah garis gelap.
Karena kerendahan hatinya, Juliana menyimpan penglihatan ini selama 20 tahun sebelum akhirnya menceritakannya kepada beberapa orang teolog tepercaya.
Selama bertahun-tahun, penglihatan ini terus hadir dalam doanya. Juliana menanggapi rahmat mistik ini dengan kerendahan hati yang luar biasa dan sikap diskresi (discernment) yang ketat. Alih-alih langsung mengumumkannya, ia memilih menyimpan misteri ini dalam keheningan batinnya selama dua dekade, sembari terus memohon petunjuk Ilahi untuk memahami maknanya.
Melalui doa, ia memahami bahwa bulan melambangkan Gereja di dunia, sementara garis gelap menandakan belum adanya hari raya liturgi khusus untuk menghormati dan mensyukuri Sakramen Mahakudus.

Namun Juliana tidak menganggap pemahaman itu sebagai alasan untuk menuntut perubahan. Ia justru semakin menyadari bahwa jika pengalaman tersebut benar-benar berasal dari Tuhan, maka penyelenggaraannya harus berlangsung melalui Gereja sendiri. Keyakinan inilah yang membuatnya mulai mencari bimbingan dari orang-orang yang dikenal memiliki kebijaksanaan dan kesetiaan kepada ajaran Gereja.
Orang pertama yang dipercayainya adalah Beata Eva dari Saint-Martin, seorang pertapa (recluse) yang dikenal karena kehidupan doanya yang mendalam. Kepada Eva, Juliana membuka isi hatinya dan menemukan seorang sahabat rohani yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mendorongnya untuk tetap bersabar menantikan kehendak Allah.
Atas dorongan tersebut, Juliana kemudian berkonsultasi dengan beberapa imam dan teolog yang dihormati di Liège. Di antara mereka terdapat Yohanes dari Lausanne (John of Lausanne), seorang kanon Gereja Santo Martin yang menjadi pembimbing rohaninya, serta sejumlah cendekiawan yang menilai bahwa pengalaman Juliana layak dipertimbangkan dengan serius. Mereka tidak langsung menerima ataupun menolaknya, melainkan mengujinya secara hati-hati sesuai kebiasaan Gereja dalam menilai pengalaman mistik.
Dukungan dari para pembimbing rohani memberi Juliana keberanian untuk melangkah, tetapi ia tetap menyadari bahwa jalan di hadapannya tidak akan mudah. Gagasan mengenai sebuah perayaan liturgi baru bukanlah perkara sederhana. Selain menyangkut kehidupan doa umat, hal itu juga harus melalui pertimbangan para uskup dan otoritas Gereja. Juliana pun memilih untuk tetap melanjutkan hidup religiusnya dengan rendah hati, sambil menunggu saat ketika Tuhan sendiri membuka jalan bagi misi yang dipercayakan kepadanya.
Ketika Kesetiaan Diuji

Setelah dipercaya memimpin komunitas Mont-Cornillon sebagai priora, Juliana berusaha menghidupkan kembali semangat hidup religius menurut kaidah Santo Agustinus. Ia menekankan kehidupan doa, disiplin komunitas, serta pengelolaan karya pelayanan yang jujur dan bertanggung jawab. Sikapnya yang tegas dihormati oleh banyak anggota komunitas, tetapi juga mulai menimbulkan ketegangan dengan beberapa pihak yang memiliki kepentingan berbeda.
Pada masa itu, Mont-Cornillon bukan sekadar sebuah biara. Komunitas tersebut juga mengelola rumah sakit bagi para penderita kusta, sebuah karya amal yang menerima dukungan dan sumbangan dari masyarakat. Pengelolaan harta benda dan administrasi rumah sakit menjadi persoalan yang tidak sederhana, terlebih ketika berbagai kepentingan politik dan ekonomi ikut memengaruhi kehidupan Gereja di Liège.
Situasi semakin memburuk ketika seorang pejabat bernama Roger memperoleh kewenangan atas Mont-Cornillon. Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa pengangkatannya diwarnai praktik simoni, yaitu penyalahgunaan jabatan gerejawi melalui transaksi atau pengaruh politik—sebuah praktik yang sejak lama telah dikecam oleh Gereja. Perbedaan pandangan mengenai tata kelola komunitas dan pengelolaan harta benda kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antara Roger dan Juliana.
Juliana dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah berkompromi terhadap hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan kehidupan religius. Keteguhannya mempertahankan disiplin komunitas justru membuatnya menjadi sasaran berbagai tuduhan. Ia difitnah telah menyalahgunakan harta milik biara dan kehilangan dukungan dari sebagian masyarakat yang terpengaruh oleh berbagai rumor yang beredar pada masa itu.
Tekanan tersebut akhirnya memuncak. Juliana terpaksa meninggalkan Mont-Cornillon, tempat yang telah menjadi rumahnya sejak masa kanak-kanak. Bagi seorang perempuan yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sana, perpisahan itu tentu menjadi luka yang mendalam. Namun ia memilih pergi tanpa perlawanan. Ia tidak berusaha mempertahankan kedudukannya, melainkan menyerahkan semuanya kepada penyelenggaraan Allah.
Santa Juliana bahkan terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan sebagai seorang anak pertapa (ankeris).
Tahun-Tahun Terakhir dalam Pengasingan

Setelah kembali diasingkan untuk kedua kalinya, Juliana tidak lagi memiliki rumah tetap. Ia berpindah dari satu komunitas religius ke komunitas lainnya, termasuk di wilayah Namur dan kemudian Fosses-la-Ville. Meskipun hidup dalam keterbatasan dan jauh dari biara yang telah membesarkannya sejak kecil, ia tidak pernah meninggalkan kehidupan doa maupun kasihnya kepada Sakramen Mahakudus.
Bagi Juliana, pengasingan bukanlah akhir dari panggilannya. Ia tidak lagi memiliki jabatan sebagai priora, tidak pula mempunyai pengaruh di tengah komunitasnya. Namun justru pada masa-masa sunyi inilah kesetiaannya semakin dimurnikan. Ia menerima penderitaan tanpa kepahitan, percaya bahwa bila karya yang dipercayakan Tuhan memang berasal dari-Nya, maka Tuhan sendiri yang akan menyempurnakannya pada waktu yang dikehendaki-Nya.
Pada tanggal 5 April 1258, Santa Juliana wafat di Fosses-la-Ville. Menurut penulis riwayat hidupnya, Sakramen Mahakudus ditempatkan di dekat pembaringannya menjelang akhir hidupnya. Renungan terakhirnya tetap tertuju kepada Kristus yang hadir dalam Ekaristi—cinta yang telah mengisi seluruh perjalanan hidupnya sejak masa muda.
Buah dari Sebuah Kesetiaan
Santa Juliana tidak pernah menyaksikan sendiri terwujudnya kerinduan yang telah ia doakan selama puluhan tahun. Namun benih yang ia taburkan terus bertumbuh melalui orang-orang yang pernah mengenal dan mempercayai kesaksian hidupnya.
Galeri Lokasi Ziarah di Belgia
Di antara mereka terdapat Yohanes dari Lausanne (John of Lausanne), imam sekaligus pembimbing rohani Juliana yang sejak awal membantu menyampaikan gagasannya kepada para pemimpin Gereja. Dukungan juga datang dari Uskup Robert de Thourotte, yang pada tahun 1246 mengizinkan perayaan Hari Raya Tubuh Kristus untuk pertama kalinya di Keuskupan Liège. Peristiwa ini menjadi langkah awal yang penting, meskipun perayaan tersebut saat itu masih terbatas pada lingkup keuskupan.
Salah seorang tokoh lain yang mengenal gagasan Juliana adalah Jacques Pantaléon, Diakon Agung Liège. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia terpilih menjadi Paus dengan nama Urbanus IV, benih yang pernah ditanam Juliana kembali mendapat perhatian. Pada tahun 1264, enam tahun setelah Juliana wafat, Paus Urban IV menerbitkan bulla Transiturus de hoc mundo, yang menetapkan Hari Raya Corpus Christi bagi Gereja Latin.
Penetapan tersebut juga didorong oleh semakin berkembangnya devosi umat kepada Ekaristi serta berbagai peristiwa yang meneguhkan iman Gereja akan Kehadiran Nyata Kristus, termasuk Mukjizat Ekaristi Bolsena-Orvieto yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Dalam konteks inilah perjuangan Santa Juliana menemukan buahnya. Apa yang selama puluhan tahun hanya menjadi kerinduan seorang biarawati akhirnya diterima sebagai perayaan resmi Gereja.
Untuk memperkaya liturgi hari raya yang baru ditetapkan itu, Paus Urban IV meminta Santo Thomas Aquinas menyusun teks-teks Misa dan Ibadat Harian. Dari pena Sang Doktor Gereja lahirlah madah-madah Ekaristi yang hingga kini masih didaraskan dan dinyanyikan di seluruh dunia, seperti Pange Lingua, Tantum Ergo, Panis Angelicus, dan O Salutaris Hostia. Melalui liturgi inilah warisan rohani Santa Juliana terus hidup dari generasi ke generasi.
Warisan Seorang Biarawati yang Sederhana
Santa Juliana tidak mendirikan tarekat baru, tidak menulis karya teologi besar, dan tidak pernah menikmati buah perjuangannya semasa hidup. Ia bahkan menjalani sisa hidupnya dalam pengasingan, jauh dari biara yang telah menjadi rumahnya sejak masa kanak-kanak. Namun sejarah menunjukkan bahwa kesetiaan kepada kehendak Allah tidak pernah sia-sia.
Lebih dari delapan abad kemudian, nama Santa Juliana dari Liège tetap dikenang sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan devosi Ekaristi di Gereja Katolik. Setiap kali umat merayakan Hari Raya Corpus Christi atau menyanyikan madah-madah Ekaristi yang indah, jejak perjuangan perempuan sederhana ini masih terasa hingga hari ini.
Makam, Relik, dan Penghormatan
Santa Juliana wafat pada 5 April 1258 di Fosses-la-Ville, Belgia. Menurut riwayat hidupnya, pada saat-saat terakhir menjelang wafat, Sakramen Mahakudus ditempatkan di dekat pembaringannya. Hingga akhir hidupnya, renungan dan cintanya tetap tertuju kepada Kristus yang hadir dalam Sakramen Ekaristi.
Galeri & Lokasi Ziarah di Belgia
Sesuai dengan keinginannya, jenazah Santa Juliana kemudian dibawa oleh sahabatnya, Gobert d'Aspremont, seorang rahib Sistersian, untuk dimakamkan di Biara Villers (Villers Abbey). Makamnya segera menjadi tempat doa dan ziarah bagi umat yang mengenang kesalehan hidup serta perjuangannya dalam menumbuhkan devosi kepada Sakramen Mahakudus.
Seiring berjalannya waktu, relik Santa Juliana tetap dihormati di Belgia, khususnya di Biara Villers, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu tempat penghormatan utama baginya. Sementara itu, Fosses-la-Ville, tempat ia mengembuskan napas terakhir, juga tetap memiliki hubungan sejarah yang erat dengan kehidupannya dan menjadi bagian penting dari jejak peziarahan Santa Juliana.
Penghormatan kepada Santa Juliana terus berkembang selama berabad-abad. Kesaksian hidupnya sebagai seorang biarawati yang setia, rendah hati, dan mengabdikan diri kepada Kristus dalam Sakramen Mahakudus akhirnya diakui secara resmi oleh Gereja ketika Paus Pius IX mengkanonisasinya pada tahun 1869. Hingga kini, namanya dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan devosi Ekaristi, sementara warisan rohaninya tetap hidup setiap kali Gereja merayakan Hari Raya Corpus Christi.
Sumber Kisah:
https://www.vatican.va/content/benedict-xvi/en/audiences/2010/documents/hf_ben-xvi_aud_20101117.html


