
"Mukjizat tidak lahir dari laboratorium. Namun ketika suatu peristiwa terus bertahan melampaui hukum alam, ilmu pengetahuan akan datang untuk mengamatinya."
Mukjizat Ekaristi Siena merupakan salah satu fenomena Ekaristi yang paling lama diamati dalam sejarah Gereja Katolik. Sejak Hosti-Hosti Kudus ditemukan kembali pada tahun 1730, berbagai pemeriksaan resmi telah dilakukan oleh para uskup, pemimpin Ordo Fransiskan, profesor universitas, ahli kimia, hingga komisi ilmiah. Baca Selengkapnya: Mukjizat Hosti Ekaristi Siena
Yang menarik, penelitian-penelitian tersebut tidak dimaksudkan untuk membuktikan ajaran Gereja tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Kehadiran Kristus adalah pokok iman Gereja.
Objek penelitian justru jauh lebih sederhana. Mengapa Hosti yang secara alami seharusnya membusuk dalam hitungan minggu atau bulan, tetap mempertahankan bentuk, warna, aroma, dan karakteristik roti selama hampir tiga abad?
Pertanyaan sederhana itulah yang terus membawa para peneliti kembali ke Basilika San Francesco di Siena.
Penelitian Pertama
Tahun 1780 – Lima Puluh Tahun Setelah Mukjizat

Selama lima puluh tahun pertama setelah peristiwa pencurian tahun 1730, Hosti-Hosti Kudus disimpan dengan penuh hormat di Basilika San Francesco. Pada masa itu beberapa hosti dibagikan dalam kesempatan-kesempatan khusus kepada tokoh-tokoh Gereja sebagai Komuni Kudus. Namun semakin lama para Fransiskan menyadari bahwa Hosti tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan sebagaimana mestinya.
Untuk memastikan keadaan tersebut, pada 14 April 1780 dilakukan pemeriksaan resmi.
Pemeriksaan dipimpin oleh: P. Carlo Vipera, O.F.M. Conv. Minister General Ordo Fransiskan Konventual, pemimpin tertinggi Ordo Fransiskan Konventual sedunia.
Pemeriksaan dilaksanakan di Basilika San Francesco, Siena, tempat Hosti-Hosti Kudus disimpan sejak tahun 1730.
Apa yang Diperiksa?
Karena ilmu kimia modern belum berkembang, pemeriksaan masih dilakukan melalui observasi langsung.
Komisi memeriksa: Keadaan fisik Hosti -- warna dan permukaan Hosti -- aroma -- tekstur -- jumlah Hosti yang masih tersimpan.
Sebagai bagian dari pemeriksaan, P. Carlo Vipera mengonsumsi satu Hosti Kudus.
Menurut berita acara pemeriksaan, Hosti tersebut masih memiliki rasa dan karakteristik roti tak beragi sebagaimana hosti yang baru dibuat. Saat itu dihitung 230 Hosti masih tersimpan.
Melihat keadaan yang tidak biasa tersebut, P. Carlo Vipera memerintahkan agar Hosti dipindahkan ke sibori baru dan menetapkan bahwa Hosti-Hosti tersebut tidak lagi dibagikan, melainkan dipelihara sebagai relik mukjizat bagi Gereja.
Pemeriksaan tahun 1780 menjadi tonggak penting karena sejak saat itulah Mukjizat Siena mulai diperlakukan sebagai fenomena yang layak didokumentasikan secara sistematis.
Penelitian Kedua
Tahun 1789 – Ketika Mikroskop Mulai Digunakan
Sembilan tahun kemudian, perhatian terhadap Mukjizat Siena semakin besar.
Pada tahun 1789, Uskup Agung Siena, Tiberio Borghese, membentuk komisi baru untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan kembali dilakukan di Basilika San Francesco, tetapi kali ini dengan pendekatan yang lebih ilmiah.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mukjizat Siena, digunakan mikroskop sebagai alat bantu observasi.
Selain memeriksa keadaan Hosti, komisi juga mengambil kesaksian di bawah sumpah dari tiga biarawan Fransiskan yang hadir pada pemeriksaan tahun 1780. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan bukti sejarah dan memastikan bahwa Hosti yang diperiksa benar-benar merupakan Hosti yang ditemukan kembali pada tahun 1730.

Eksperimen yang Mendahului Ilmu Modern
Salah satu bagian paling menarik dari pemeriksaan tahun 1789 adalah dilakukannya eksperimen pembanding.
Komisi menyadari bahwa suatu pengamatan akan lebih bermakna apabila dibandingkan dengan kondisi normal.
Karena itu, Uskup Agung Siena memerintahkan agar sejumlah hosti biasa yang belum dikonsekrasi disimpan dalam wadah tertutup, dengan kondisi penyimpanan yang dibuat semirip mungkin dengan Hosti Mukjizat.
Eksperimen ini berlangsung selama sepuluh tahun. Ketika wadah dibuka kembali, hasilnya sangat kontras.
Hosti biasa telah berubah warna, rapuh, dan mengalami pembusukan. Sebaliknya, Hosti Mukjizat Siena tetap mempertahankan bentuk, warna, serta karakteristik roti yang normal.
Dalam sudut pandang metodologi ilmiah, percobaan sederhana ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk eksperimen kontrol paling awal yang pernah dilakukan terhadap sebuah Mukjizat Ekaristi.
Pemeriksaan Berulang pada Abad ke-19
Sepanjang abad ke-19, Gereja tidak hanya mengandalkan satu kali pemeriksaan.
Rekognisi resmi kembali dilakukan pada beberapa kesempatan, antara lain sekitar tahun 1815 dan 1854, untuk memastikan bahwa kondisi Hosti tidak mengalami perubahan.
Dalam setiap pemeriksaan, kesimpulan yang dicatat tetap sama; Hosti-Hosti Kudus tidak menunjukkan gejala pembusukan sebagaimana lazimnya roti yang disimpan dalam jangka waktu panjang. Sementara itu, hosti pembanding yang digunakan dalam eksperimen telah lama rusak dan hancur.
Semakin bertambah usia penyimpanan Hosti Mukjizat, semakin sulit pula menjelaskan fenomena tersebut berdasarkan pengalaman sehari-hari mengenai bahan pangan berbasis tepung.
Penelitian Ilmiah Tahun 1914
Saat Para Profesor Universitas Turun Tangan
Memasuki abad ke-20, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Perkembangan kimia, mikrobiologi, dan ilmu pangan mendorong Gereja untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif terhadap Mukjizat Siena.
Atas persetujuan Paus Santo Pius X, pada 10 Juni 1914 dibentuk sebuah komisi ilmiah yang terdiri dari para profesor dan pakar dari Universitas Siena, didampingi ahli-ahli di bidang kimia, higiene, bromatologi (ilmu pangan), dan farmasi.
Ketua komisi adalah: Prof. Siro Grimaldi. Profesor Kimia Biomatologi; Universitas Siena sekaligus Direktur Laboratorium Kimia Kota Siena (Laboratorio Chimico Municipale di Siena). Para anggota komisi di antaranya : Dr. Luigi Simonetta, Profesor Higiene; Dr. Carlo Raimondi, Profesor Materia Medica; Dr. Mansueto Delaini, Asisten di Institut Fisika; semuanya dari Universitas Siena), pengamat (termasuk B. Giuseppe Toniolo, profesor di Universitas Pisa, sebagai Pakar Hukum) dan di hadapan saksi-saksi gerejawi dan awam.
Kehadiran para ilmuwan dari berbagai disiplin menunjukkan bahwa penelitian tidak lagi terbatas pada observasi visual, tetapi mulai menggunakan pendekatan ilmiah yang lazim pada awal abad ke-20.

Apa yang Diteliti oleh Komisi?
Berbeda dengan Mukjizat Lanciano yang berfokus pada analisis jaringan manusia dan darah, penelitian Siena diarahkan pada kondisi fisik Hosti.
Komisi melakukan pemeriksaan terhadap: bentuk dan struktur Hosti; warna; aroma; kandungan pati; kemungkinan pertumbuhan jamur; kemungkinan kerusakan akibat mikroorganisme; kemungkinan serangan serangga yang lazim menyerang produk berbahan tepung.
Seluruh pemeriksaan dilakukan dengan metode laboratorium yang tersedia pada masa itu.
Kesimpulan Para Ilmuwan
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian, komisi menyatakan bahwa Hosti-Hosti tersebut berada dalam kondisi yang sangat baik.
Menurut laporan Prof. Siro Grimaldi, Hosti masih mempertahankan karakteristik roti tak beragi yang normal, meskipun telah disimpan selama 184 tahun.
Dalam laporannya, ia menyebut Hosti Siena sebagai fenomena yang tidak sejalan dengan proses alami pelestarian bahan organik dan menyatakan bahwa kasus tersebut tidak memiliki padanan yang diketahui dalam ilmu pengetahuan pada zamannya.
Kesimpulan inilah yang kemudian menjadikan penelitian tahun 1914 sebagai salah satu dokumen ilmiah paling sering dikutip dalam pembahasan Mukjizat Ekaristi Siena.
Hasil penelitian tersebut selanjutnya diterbitkan dalam buku Uno Scienziato Adora (Seorang Ilmuwan Menyembah), yang menjadi salah satu referensi penting mengenai penelitian ilmiah Mukjizat Siena.
Catatan rapat yang relevan, yang disimpan di Arsip Uskup Agung di antara Akta Kuria, menyatakan, antara lain, sebagai berikut:
"Mengenai Hosti, tidak hanya yang berada di lapisan pertama, tetapi juga yang di permukaan, tampaknya terpelihara dengan baik dan tanpa tanda-tanda perubahan atau jamur, maupun rusak oleh rayap atau parasit lain yang khas pada produk tepung.
Bentuknya bulat, kira-kira seukuran koin dua lire, berwarna kuning jerami agak, padat, dengan tepi yang jelas, dan setelah diperiksa dengan kaca pembesar, strukturnya tampak berongga, dengan butiran buram di sana-sini.
Tiga anggota Komisi kami, yang bersama dengan tiga peserta lain dalam Upacara tersebut, menerima Komuni Kudus pagi ini dengan Hosti yang baru disiapkan dan kemudian dengan Hosti kuno, menyatakan bahwa mereka mencatat, pada Hosti kuno tersebut, rasa yang mengingatkan pada tepung terigu kasar, dan lebih tahan terhadap air liur dan menelan dibandingkan dengan Hosti yang baru disiapkan.
Ketika sepotong Hosti direndam dalam air suling, Hosti tersebut mengembang. Dua tetes pewarna jamur lak yang peka ditambahkan ke air tempat fragmen Hosti yang disebutkan sebelumnya direndam, yang kemudian dikumpulkan dalam cawan arloji. Setelah beberapa saat, terlihat warna merah muda pucat yang sangat samar — dengan layar putih di bawah kaca — menandakan reaksi asam yang sangat lemah.
Fragmen Partikel lainnya, yang diletakkan di atas pelat platinum yang dibasahi dengan beberapa tetes larutan yodium jenuh, dengan cepat dan sepenuhnya berubah menjadi warna biru yang indah, bukti tak terbantahkan adanya pati normal dalam Partikel tersebut.
Mengingat warna kuning jerami pada Partikel, dan karakteristik lain yang disebutkan di atas, diyakini bahwa Partikel tersebut dibuat dengan tepung terigu yang diayak kasar.
Kesimpulannya, kami menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1° - Hosti - sesuai dengan sampel yang diperiksa - benar-benar terbuat dari pasta yang mengandung pati, yaitu komponen utama roti tanpa ragi;
2° - Hosti itu sendiri berada dalam kondisi pengawetan yang baik.
Hasil ini mendokumentasikan, setelah 184 tahun, pengawetan sempurna Hosti, padahal menurut hukum alam, paling lama hosti tidak mungkin tetap utuh selama lebih dari beberapa tahun.
Peristiwa ini disampaikan kepada Kongres Ekaristi Internasional Lourdes (22-26 Juli 1914) dan pada tahun 1917 dengan pencetakan buku " De Sacris Particulis ab anno 1730 in Senensi Basilica S. Francisci incorrupte servatis " oleh Pastor Agostino Ruelli, OSA, hal itu diketahui, bersama dengan semua dokumentasi arsip, kepada seluruh Episkopat Katolik.
Pada kesempatan penemuan kembali "Harta Karun Ekaristi," Pastor Spée bertanya-tanya: "Akankah Yesus mengabadikan mukjizat itu? Sebuah misteri besar! Akankah kita layak memilikinya selamanya? Kita telah melestarikannya hingga sekarang, tetapi siapa yang melakukannya lebih baik? Kita atau Yesus? Tentu saja Dia, Yesus! Saya berdoa dan berharap agar Hosti Kudus, yang tersimpan dalam Tabernakel ini, akan menginspirasi dunia dengan mentalitas baru dan perdamaian abadi." (Pecahnya Perang Dunia Pertama sudah dapat diprediksi pada saat itu.)
Penelitian Berlanjut Hingga Masa Kini Sesudah tahun 1914, pemeriksaan terhadap Hosti-Hosti Kudus tidak berhenti.
Rekognisi dan Pemeriksaan Lanjutan
Penelitian terhadap Mukjizat Ekaristi Siena tidak berhenti setelah pemeriksaan ilmiah tahun 1914. Sepanjang abad ke-20 hingga abad ke-21, Gereja terus melakukan rekognisi kanonik, yaitu pemeriksaan resmi untuk memastikan kondisi Hosti Kudus sekaligus menjaga keaslian dokumentasi sejarahnya.
Berbeda dengan penelitian laboratorium yang bertujuan mengamati aspek ilmiah, rekognisi kanonik lebih berfokus pada pemeriksaan fisik, penghitungan jumlah Hosti, kondisi tempat penyimpanan, serta pembaruan segel-segel resmi Gereja.
3 Juni 1922 : Pemindahan ke Monstrans Baru
Pada 3 Juni 1922, Hosti-Hosti Kudus dipindahkan dari sibori (pisside) ke sebuah monstrans artistik yang baru.
Monstrans tersebut dirancang khusus agar Hosti dapat dilihat dengan lebih jelas oleh para peziarah tanpa mengurangi keamanan penyimpanannya. Pada kesempatan itu dilakukan pula pemeriksaan resmi terhadap kondisi Hosti sebelum dipindahkan ke wadah baru.
Tahun 1944 : Pembaruan Segel Keuskupan
Pada masa Perang Dunia II, Uskup Agung Mario Toccabelli (1935–1961) memeriksa kembali relikui.
Beliau menemukan bahwa pita pengikat segel resmi mulai mengalami kerusakan akibat usia. Untuk menjaga keaslian relikui dan mencegah kemungkinan gangguan terhadap tempat penyimpanan Hosti, segel-segel tersebut kemudian diperbarui.
Langkah ini bukan merupakan penelitian ilmiah baru, melainkan bagian dari prosedur kanonik Gereja dalam menjaga integritas relikui.
23 September 1950 : Monstrans yang Lebih Representatif
Pada tahun 1950, Hosti-Hosti Kudus kembali dipindahkan sementara ke dalam sebuah sibori.
Setelah dilakukan pemeriksaan, pada 23 September 1950 seluruh Hosti ditempatkan di dalam monstrans baru yang dirancang agar lebih aman sekaligus memberikan visibilitas yang lebih baik bagi umat yang datang berziarah ke Basilika San Francesco.
Monstrans inilah yang kemudian menjadi tempat penyimpanan utama Mukjizat Ekaristi Siena selama beberapa dekade berikutnya.
6 Agustus 1951
Pencurian Kedua dan Investigasi Kepolisian
Pada 6 Agustus 1951, terjadi peristiwa yang kembali mengguncang Basilika San Francesco.
Seorang pencuri berhasil membawa kabur monstrans berharga yang menjadi tempat penyimpanan Hosti Kudus.
Namun, sebagaimana pencurian tahun 1730, sasaran utama tampaknya adalah wadah logam berharganya, bukan Hosti Kudus itu sendiri.
Hosti-Hosti Kudus ditemukan telah disingkirkan ke sudut tabernakel, sementara monstransnya dicuri.
Karena kasus ini ditangani sebagai tindak pidana, aparat kepolisian melakukan pemeriksaan forensik terhadap Hosti-Hosti tersebut untuk mencari kemungkinan sidik jari pelaku. Untuk itu digunakan serbuk khusus berwarna kebiruan yang lazim dipakai dalam investigasi kriminal pada masa itu.
Sesudah proses penyelidikan selesai, setiap Hosti harus dibersihkan satu per satu secara manual menggunakan bulu ayam agar seluruh sisa serbuk forensik dapat dihilangkan tanpa merusak permukaannya.
Peristiwa ini menjadi salah satu episode paling unik dalam sejarah Mukjizat Siena, karena untuk pertama kalinya Hosti Kudus menjadi bagian dari proses investigasi ilmiah kepolisian.
10 Juni 1952 : Pemeriksaan Sebelum Disimpan Kembali
Setelah monstrans yang dicuri berhasil diganti dengan replika baru yang dibuat mengikuti desain aslinya, pada 10 Juni 1952 dilakukan pemeriksaan kembali terhadap seluruh Hosti Kudus.
Setelah dipastikan tetap berada dalam kondisi baik, Hosti-Hosti tersebut ditempatkan kembali ke dalam monstrans yang baru dan disegel sesuai prosedur Gereja.
10 September 2014 : Rekognisi Modern dengan Teknologi Non-Invasif
Tepat satu abad setelah penelitian ilmiah tahun 1914, Uskup Agung Antonio Buoncristiani memutuskan untuk melakukan rekognisi resmi yang baru.
Sebelum pemeriksaan dilaksanakan, Keuskupan Siena terlebih dahulu memperoleh persetujuan Kongregasi untuk Ajaran Iman (Congregation for the Doctrine of the Faith), otoritas Vatikan yang saat itu berwenang menangani perkara-perkara doktrinal dan mukjizat.
Rekognisi berlangsung pada 10 September 2014.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, pemeriksaan kali ini menggunakan metode ilmiah non-invasif, yaitu teknik analisis yang tidak memerlukan pengambilan sampel ataupun merusak Hosti.
Tujuan pemeriksaan bukan untuk melakukan eksperimen baru, melainkan mendokumentasikan secara ilmiah bahwa Hosti-Hosti tersebut masih berada dalam kondisi yang sangat baik serta tidak menunjukkan adanya kontaminasi mikrobiologis.
Hasil pemeriksaan kembali menegaskan bahwa Hosti tetap terpelihara dengan sangat baik meskipun telah disimpan selama hampir tiga abad.
Makna di Balik Seluruh Penelitian
Sesudah lebih dari 290 tahun, Mukjizat Ekaristi Siena telah melewati berbagai pemeriksaan Gereja, penelitian ilmiah, rekognisi kanonik, bahkan penyelidikan kepolisian. Semua itu telah menghasilkan dokumentasi sejarah yang sangat kaya.
Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Keuskupan Agung Siena, pertanyaan yang paling penting bukanlah "Bagaimana Hosti itu dapat bertahan?", melainkan:
"Apa makna mukjizat Ekaristi dengan kehadiran yang begitu lama dan terus bertahan ini bagi iman kita?"
Pertanyaan tersebut mengajak setiap peziarah untuk melihat bahwa penelitian ilmiah dan dokumentasi sejarah bukanlah tujuan akhir. Keduanya justru menjadi jalan yang membantu umat merenungkan misteri yang lebih dalam, yakni kehadiran Kristus yang terus menyertai Gereja-Nya melalui Sakramen Ekaristi.
Refleksi
Selama hampir tiga abad, Mukjizat Ekaristi Siena telah diamati oleh generasi demi generasi. Metode penelitian berubah, peralatan laboratorium semakin canggih, dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Namun pertanyaan yang diajukan para peneliti tetap sama:
Mengapa Hosti-Hosti tersebut tetap segar?
Ilmu pengetahuan berhasil menggambarkan kondisi Hosti, mencatat sifat-sifatnya, dan membandingkannya dengan roti biasa. Namun hingga kini, fenomena ketahanannya yang luar biasa dalam konteks sejarah penyimpanannya tetap menjadi salah satu aspek yang paling menarik perhatian para peneliti dan peziarah.
Bagi Gereja Katolik, penelitian-penelitian ini tidak menggantikan iman, tetapi menjadi catatan sejarah bahwa suatu peristiwa yang terjadi pada tahun 1730 terus diamati secara serius dan terdokumentasi dengan baik selama hampir tiga abad. Itulah yang menjadikan Mukjizat Ekaristi Siena sebagai salah satu mukjizat Ekaristi yang paling banyak diteliti dalam sejarah Gereja.

