Ketika Relik Berusia Lebih dari 1.200 Tahun Diuji oleh Ilmu Pengetahuan Modern

Di dalam Gereja Katolik, mukjizat tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang lahir dari pembuktian ilmiah. Mukjizat adalah peristiwa yang, menurut iman, melampaui hukum alam dan tidak dapat direproduksi melalui metode eksperimen. Namun, apabila suatu mukjizat meninggalkan relik fisik yang masih dapat diamati, maka ilmu pengetahuan dapat membantu menjawab pertanyaan yang berbeda: apa sebenarnya benda yang sedang diteliti?
Inilah yang terjadi pada Mukjizat Ekaristi Lanciano.
Selama lebih dari dua belas abad, relik yang diyakini berasal dari peristiwa mukjizat tersebut disimpan dan dihormati di Gereja Santo Fransiskus, Lanciano, Italia. Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berdoa di hadapan relik yang terdiri atas sepotong daging dan lima gumpalan darah yang telah mengering. Selama berabad-abad, penghormatan terhadap relik ini bertumpu pada tradisi Gereja, kesaksian sejarah, serta pemeriksaan kanonik yang dilakukan oleh otoritas gerejawi.
Memasuki abad ke-20, perkembangan ilmu kedokteran membuka kemungkinan baru. Dengan teknik histologi, imunologi, biokimia, dan mikroskopi modern, para ilmuwan kini mampu mengidentifikasi jenis jaringan tubuh, menentukan golongan darah, hingga menganalisis struktur mikroskopis suatu sampel biologis.
Pertanyaannya bukan lagi "Apakah mukjizat dapat dibuktikan?", melainkan "Apa yang dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan mengenai relik yang telah disimpan selama lebih dari seribu tahun ini?"
Atas izin otoritas Gereja, relik Mukjizat Ekaristi Lanciano akhirnya menjalani pemeriksaan ilmiah modern. Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu kajian paling terkenal yang pernah dilakukan terhadap sebuah relik keagamaan, dan hasilnya masih terus dibahas hingga sekarang.

Sebelum Era Laboratorium Modern
Jauh sebelum ilmu kedokteran mengenal mikroskop elektron, analisis protein, atau pemeriksaan DNA, Gereja telah beberapa kali melakukan rekognisi kanonik (ricognizione canonica) terhadap relik Mukjizat Ekaristi Lanciano.
Tujuan pemeriksaan tersebut berbeda dengan penelitian ilmiah modern. Gereja tidak berusaha menjelaskan komposisi biologis relik, melainkan memastikan bahwa relik yang dihormati umat benar-benar merupakan relik yang sama, tidak mengalami penggantian, serta tetap terpelihara dengan baik.
Pemeriksaan pertama yang tercatat berlangsung pada 1574, dipimpin oleh Uskup Agung Gaspare Rodriguez.
Dalam pemeriksaan itu dicatat sebuah fenomena yang kemudian menjadi bagian dari tradisi Lanciano. Lima gumpalan darah yang mengering ditimbang satu per satu, kemudian ditimbang bersama-sama. Menurut laporan pemeriksaan tersebut, berat keseluruhan kelima gumpalan sama dengan berat masing-masing gumpalan apabila ditimbang secara terpisah.
Saat ini, berat total kelima gumpalan darah adalah 16,505 gram. Berat masing-masing gumpalan tercatat sebagai berikut:
- 8 gram
- 2,45 gram
- 2,85 gram
- 2,05 gram
- 1,15 gram
Selain itu, masih terdapat sekitar 5 miligram serbuk darah.
Fenomena ini tidak pernah dijadikan dasar ilmiah untuk menyatakan adanya mukjizat. Gereja sendiri tidak melakukan pengujian eksperimental lanjutan terhadap hasil penimbangan tersebut. Meski demikian, catatan itu tetap dipelihara sebagai bagian dari sejarah relik.
Setelah pemeriksaan tahun 1574, rekognisi kanonik kembali dilakukan pada tahun 1637, 1770, dan 1866. Seluruh pemeriksaan tersebut lebih berfokus pada keadaan fisik relik, kesinambungan sejarah penyimpanannya, serta penghormatan liturgis yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Selama hampir empat ratus tahun berikutnya, relik tetap disimpan tanpa pernah menjalani analisis biologis secara modern.
Perubahan besar baru terjadi pada penghujung tahun 1970.
Ketika Gereja Membuka Pintu bagi Sains
Pada akhir dekade 1960-an, ilmu kedokteran mengalami perkembangan pesat. Pemeriksaan histologi telah menjadi metode baku untuk mengenali jaringan tubuh manusia, sementara analisis imunologi dan biokimia mampu memberikan identifikasi yang jauh lebih akurat dibandingkan sebelumnya.
Dalam konteks inilah muncul gagasan untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap relik Mukjizat Ekaristi Lanciano.
Keputusan tersebut bukanlah langkah yang diambil secara tergesa-gesa. Selama lebih dari dua belas abad, relik telah dihormati sebagai benda suci. Karena itu, setiap tindakan yang menyentuh relik harus memperoleh persetujuan otoritas Gereja.
Atas permohonan Uskup Agung Lanciano, Monsinyur Pacifico Perantoni, serta pimpinan Ordo Fransiskan Konventual Provinsi Abruzzo, Takhta Suci memberikan izin untuk dilakukan penelitian ilmiah.
Pemeriksaan dipercayakan kepada Dr. Odoardo (Edoardo) Linoli, seorang dokter spesialis anatomi patologis yang juga mengajar Anatomi, Histologi, Kimia, dan Mikroskopi Klinis. Untuk memastikan objektivitas ilmiah, penelitian tersebut didampingi oleh Prof. Ruggero Bertelli, Guru Besar Anatomi Manusia dari Universitas Siena.
Pemilihan kedua ilmuwan ini bukan tanpa alasan. Keduanya memiliki pengalaman panjang dalam bidang anatomi dan histologi, disiplin ilmu yang berfokus pada struktur jaringan tubuh hingga tingkat mikroskopis.
Penelitian tidak dilakukan di dalam gereja, melainkan melalui prosedur laboratorium sebagaimana lazim digunakan dalam penelitian kedokteran pada masa itu.
Pada 18 November 1970, pengambilan sampel resmi dilakukan. Hari itu menandai dimulainya salah satu penelitian paling terkenal dalam sejarah relik Gereja Katolik.

Di Dalam Laboratorium
Mengungkap Identitas Relik Mukjizat Ekaristi Lanciano
Pada pagi 18 November 1970, proses penelitian resmi dimulai. Dengan persetujuan otoritas Gereja, sampel kecil diambil dari relik untuk dianalisis di laboratorium. Bagi para ilmuwan, relik tersebut diperlakukan sebagaimana spesimen biologis lainnya. Mereka tidak diminta untuk membuktikan ataupun menyangkal mukjizat, melainkan mengidentifikasi sifat biologis dari bahan yang tersedia.
Dr. Odoardo Linoli menyusun rangkaian pemeriksaan yang lazim digunakan dalam dunia kedokteran. Analisis dilakukan secara bertahap agar setiap temuan dapat diverifikasi melalui lebih dari satu metode. Pendekatan seperti ini penting untuk mengurangi kemungkinan kesalahan interpretasi.
Penelitian meliputi beberapa bidang sekaligus, yaitu anatomi makroskopis, histologi, imunologi, hematologi, biokimia, dan mikroskopi klinis. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.
- Anatomi digunakan untuk mengamati bentuk umum jaringan.
- Histologi mempelajari susunan jaringan di bawah mikroskop.
- Imunologi dan hematologi membantu mengidentifikasi karakteristik darah.
- Biokimia menganalisis komposisi protein dan mineral.
- Mikroskopi digunakan untuk memastikan seluruh struktur tersebut benar-benar berasal dari jaringan biologis.
Serangkaian pemeriksaan ini berlangsung selama beberapa bulan sebelum hasil akhirnya dipresentasikan kepada publik pada 4 Maret 1971.
Temuan - Temuan
Relik "Daging" Ternyata Merupakan Jaringan Jantung
Salah satu pertanyaan paling mendasar adalah: apakah relik yang selama ini dihormati sebagai "Daging" benar-benar merupakan jaringan tubuh manusia?
Untuk menjawabnya, para peneliti membuat preparat histologi. Sampel jaringan dipotong menjadi irisan yang sangat tipis, kemudian diberi zat pewarna khusus sehingga struktur sel dapat diamati melalui mikroskop.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa relik tersebut bukanlah bahan tumbuhan, bukan pula jaringan hewan yang biasa digunakan sebagai makanan.
Sebaliknya, seluruh karakteristik mikroskopis mengarah pada jaringan otot jantung manusia, atau dalam istilah anatomi disebut miokardium (myocardium).
Di bawah mikroskop tampak serabut-serabut otot yang tersusun memanjang, saling bercabang, dan membentuk pola khas yang hanya ditemukan pada otot jantung. Struktur tersebut berbeda dari otot rangka maupun otot polos yang terdapat pada organ-organ lain.
Yang lebih menarik lagi, pada preparat histologi juga ditemukan bagian-bagian lain yang secara anatomi memang berhubungan dengan jantung, antara lain:
- lapisan endokardium, yaitu lapisan yang melapisi bagian dalam ruang jantung;
- pembuluh darah berukuran kecil;
- jaringan lemak yang biasa menyertai permukaan jantung;
- serta cabang serabut saraf yang diduga berasal dari saraf vagus, salah satu saraf utama yang mengatur fungsi jantung.
Keberadaan beberapa struktur tersebut membuat para peneliti menyimpulkan bahwa relik bukan sekadar potongan otot biasa, melainkan bagian dari dinding jantung manusia.
Darah yang Mengering Selama Berabad-abad

Setelah pemeriksaan jaringan selesai, perhatian para peneliti beralih kepada lima gumpalan darah yang disimpan bersama relik.
Secara kasat mata, gumpalan tersebut telah mengering dan mengeras akibat usia yang sangat tua. Dalam kondisi seperti itu, identifikasi darah bukanlah pekerjaan yang mudah.
Melalui berbagai pengujian laboratorium, Dr. Linoli berhasil memastikan bahwa gumpalan tersebut benar-benar merupakan darah manusia, bukan pigmen, resin, maupun bahan organik lain yang menyerupai darah.
Langkah berikutnya adalah menentukan golongan darah. Dengan menggunakan metode hemaglutinasi, sampel darah diuji menggunakan serum anti-A dan anti-B. Reaksi yang terjadi menunjukkan bahwa darah tersebut termasuk golongan darah AB.
Pengujian yang sama kemudian diterapkan terhadap jaringan daging. Hasilnya identik. Baik jaringan maupun darah menunjukkan karakteristik golongan darah AB.

Temuan ini tidak membuktikan bahwa keduanya pasti berasal dari individu yang sama, karena banyak orang memiliki golongan darah yang sama. Namun, kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan golongan darah antara kedua sampel yang diperiksa.
Tidak Ditemukan Bahan Pengawet
Salah satu pertanyaan penting yang ingin dijawab para peneliti adalah apakah relik tersebut pernah diawetkan dengan cara tertentu.
Berbagai pengujian tidak menemukan tanda-tanda penggunaan garam, resin, lilin, atau bahan pengawet lain yang lazim digunakan pada zaman dahulu.
Temuan ini menarik karena jaringan tersebut telah disimpan selama lebih dari dua belas abad tanpa proses mumifikasi yang diketahui.
Kandungan Protein Masih Dapat Dikenali

Pemeriksaan kimia menunjukkan bahwa protein dalam darah masih dapat dikenali dan memiliki pola yang serupa dengan darah manusia.
Bagi para ilmuwan, hasil ini cukup mengejutkan mengingat usia relik yang sangat tua. Namun mereka juga mengingatkan bahwa protein dapat bertahan sangat lama dalam kondisi tertentu, sehingga temuan ini tidak otomatis menjadi bukti adanya mukjizat.
Apa Arti Temuan Ini?
Penelitian tahun 1970–1971 berhasil menjawab beberapa pertanyaan mengenai apa yang terdapat pada relik Mukjizat Ekaristi Lanciano.
Melalui metode ilmiah, para peneliti menyimpulkan bahwa relik tersebut adalah jaringan jantung manusia dan darah manusia bergolongan AB, tanpa ditemukan bukti penggunaan bahan pengawet.
Namun, penting untuk dipahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki batasannya.
Sains dapat menjelaskan jenis jaringan, komposisi darah, dan struktur biologis suatu benda. Akan tetapi, sains tidak dapat menentukan apakah suatu peristiwa merupakan mukjizat, karena mukjizat berada di luar ruang lingkup metode ilmiah.
Oleh karena itu, hasil penelitian ini tidak dimaksudkan untuk membuktikan atau menyangkal iman, melainkan memberikan informasi objektif mengenai relik yang telah dihormati selama lebih dari dua belas abad.
Bagi Gereja Katolik, penelitian ilmiah dan iman bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya berjalan pada ranah yang berbeda: ilmu pengetahuan menjelaskan apa yang dapat diamati, sedangkan iman berbicara tentang makna di balik peristiwa tersebut.


